Merdeka Belajar Merdeka Berkarya Dan Pengenalan Budaya Nusantara Di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur
Abstract
Penelitian ini berfokus pada bagaimana konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Berkarya diterapkan dalam pengenalan budaya Nusantara di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL). Metode yang diterapkan bersifat kualitatif, dengan cara mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari hasil yang diperoleh, terlihat bahwa SIKL tidak hanya berperan sebagai tempat belajar bagi siswa Indonesia yang terletak di luar negeri. Lebih dari itu, sekolah ini juga menjadi ruang untuk menjaga dan mengenalkan kembali identitas budaya Indonesia kepada para siswanya. Dalam proses pembelajaran, penerapan Merdeka Belajar cukup terlihat dari cara guru mengajar yang lebih variatif. Tidak hanya terpaku pada penjelasan di kelas, tetapi juga menggunakan media visual dan permainan edukatif, seperti puzzle budaya dan motif batik. Cara seperti ini membuat suasana belajar terasa lebih hidup. Siswa jadi lebih aktif, tidak ragu untuk terlibat, dan materi yang disampaikan pun lebih mudah dipahami. Di sisi lain, konsep Merdeka Berkarya mulai tampak ketika siswa diberi kesempatan untuk menghasilkan sesuatu dari proses belajar mereka. Salah satu metode yang diterapkan adalah pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning. Melalui aktivitas ini, siswa tidak hanya mengerti materi dalam tataran teori, tetapi juga mencoba mengolahnya menjadi sebuah karya yang berkaitan dengan budaya Nusantara. Prosesnya memang tidak selalu mudah, tetapi justru di situ siswa belajar—mulai dari berpikir kritis, bekerja sama, sampai mencari solusi ketika menemui kesulitan. Selain kegiatan di dalam kelas, penguatan karakter juga terlihat dari aktivitas ekstrakurikuler. Kegiatan seperti tari tradisional, musik daerah, dan seni budaya memberi ruang bagi siswa untuk lebih mengenal budaya Indonesia secara langsung. Dari situ, rasa kebersamaan dan nasionalisme juga perlahan tumbuh. Jadi, pembelajaran yang berlangsung tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai akademis, namun juga membentuk perilaku dan kesadaran siswa terhadap budaya mereka sendiri. Kalau dilihat secara keseluruhan, penggabungan antara pembelajaran di kelas dan pengenalan budaya ini memberikan dampak yang cukup terasa. Siswa tidak hanya belajar untuk menguasai materi, tetapi juga belajar menghargai identitas budayanya. Meskipun mereka berada di luar negeri, mereka tetap punya keterikatan dengan budaya Indonesia. Inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan dari penerapan Merdeka Belajar dan Merdeka Berkarya di SIKL—mendorong siswa untuk berkembang secara lebih utuh, baik dari sisi akademik maupun karakter.
Downloads
Copyright (c) 2026 KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Abstract Views: 31 |
pdf Downloads: 32














